Agak-agak heran kalau ada orang yang tiba-tiba meributkan status Facebook atau tweet, dan mengungkapkan dengan kata-kata yang bikin aku tambah bingung nanggapinnya. Semalem ada orang yang tiba-tiba ribut sama statusku, padahal yang ku maksudkan juga belum tentu dia. Kata-katanya seperti, “semoga sadar sendiri” atau “yang penting mbak senang.” lha terus apa maksudnya menyatakan seolah tahu apa yang saya pikirkan atau rasakan?

Aku paling heran kalau ketemu orang beginian. Dulu aku diceritakan sering di sebut “sombong”, “sok”, “jahat” dan semacamnya. Perasaanku tetap baik aja, habisnya mau diapain? Apakah kemudian dengan aku bilang, “aku marah kamu bilang begitu.” atau “aku sedih kalian berpikir begitu.” terus pendapat mereka berubah? Wong ibu aku sendiri nyebut aku “anak iblis” atau kadang-kadang keluar kata-kata seperti harusnya ga punya anak atau mati aja kamu! semacamnya, apa aku harus nangis-nangis di depannya sambil bilang betapa dia tega bisa bicara begitu? Ini cuma status, tulisan, bisa untuk siapa saja, tapi merasa sedih dan sakit hati sendiri. Bukan omongan depan muka sendiri. Memusingkan diri sendiri dengan mikirin update status orang lain. Buat dia atau bukan buat dia, ini ga akan jadi bebannya kalau dia ga merasa.Letak nalarnya di mana?


Kata-katanya itu lho absurd bener. Dia komen “semoga mbak ngerasa sendiri” waktu aku bikin status tentang aku yang di tagging-tagging cuma untuk puisi galau. Maksudnya apakah aku juga ngelakuin hal yang sama, tagging orang setiap bikin status puisi atau lirik lagu? Jangankan tagging, bikin status macam gituan aja males. Koq bisa gitu ya. Di juga komen, “semoga mbak senang.” Ngambil kesimpulan dari mana aku saat itu lagi senang atau tidak? Lha kalau saat itu aku lagi di patah tulang terus bikin status berarti mengindikasikan aku lagi senang?

Dulu pun, aku bikin status dia juga yang emosian. Padahal arah omongan juga bukan dia dan teman-temannya, tapi yang lain. Yang aku maksudkan aja komen-komen biasa di status tersebut, paling pertama lagi. Anehnya dia yang ribut, ada temannya dateng ikutan juga ribut. Akhirnya mereka sendiri yang sakit hati, padahal aku bikin status itu buat diri aku sendiri. Bingung pula jadinya.

Inilah susahnya kalo ada orang yang menginterpretasikan sebuah topik tanpa tanya-tanya dulu. Sampe nanya salah mereka apa dan semacamnya. Lha salah aku apa kalo gitu? Aku cuma bikin status, ga ada yang merasa menjadi yang dimaksud oleh status tersebut sampe dia komen sendiri. Intinya, seandainya dia ga merasa kalo status itu buat dia, dia sendiri juga ga akan ngerasa “sedih” atau “terluka”. Macam sinetron aja sampai begitu. Kalo aku bilang “tiap denger ada cewek manggil ‘sis’, gw inget sama tetangga yang menghamili anak seumuran adek gw yang di panggil ‘sis’.” , memang kenyataannya begitu mau siapapun yang ngomong. Ceritanya pun pernah mereka dengar dari aku sendiri, karena aku yang cerita. Nah, artinya aku memang jujur mikir begitu, bukan atas perseorangan aja. Malah diributkan. Ckck.

Ini pun juga terjadi sama dosen, ga cuma yang kebetulan sesama mahasiswi aja. Kesimpulanku jadinya, Facebook banyak stalkers. Padahal namanya juga status, dibikin buat diri sendiri, ga ada keharusan orang harus baca dan menanggapi, tapi malah ngerasa sendiri. Jadinya kan repot, mau bikin status aja jadi pusing sendiri karena mikirin ada yang bakal ‘merasa’. Walah walah.

Yaahh sudahlah kalau memang demikian adanya. Sekarang aku balikkin lagi omongannya, dia punya pendapat aku ini pengecut, harusnya ga ada masalah aku mau berpendapat mereka alay dan tag-abuser atau ga?

Until later people.

Advertisements